Arielaut's Blog

Just another WordPress.com weblog

TEKNIK PEMBIBITAN DAN PENANAMAN MANGROVE DI PESISIR KABUPATEN INDRAMAYU

3.1 MORFOLOGI, ARUS, DAN IKLIM
3.1.1 Morfologi dan pertumbuhan Garis pantai
Dilihat dari letak geografisnya Kabupaten Indramayu terletak pada 107o52’-108o36’ BT dan 6o15’-6o40’ LS. Sedangkan berdasarkan topografinya sebagian besar merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanah 0-2%. Adapun batas wilayah Kabupaten Indramayu adalah sebagai berikut :
Utara : Laut Jawa
Selatan : Kabupaten Majalengka, Sumedang dan Cirebon
Barat : Kabupaten Subang
Timur : Laut Jawa dan Kabupaten Cirebon
Kabupaten Indramayu terletak di pesisir utara Pulau Jawa, dengan panjang garis pantai 114,1 Km terdiri dari :
Panjang pantai berpasir : 64,68 Km
Panjang pantai berlumpur : 44,91 Km dengan kedalaman
lumpur bervariasi antara 10-70 cm
Lebar muara : 4,51 Km
Kawasan garis pantai timur Kabupaten Indramayu ditutupi oleh endapan aluvium yang cukup luas. Proses sedimentasi pada garis pantai saat ini masih berlangsung, disebabkan oleh sungai Cimanuk yang bermuara di daerah ini. Sungai tersebut membawa material sediemn dalam jumlah besar. Sedimen ini tersebar di Laut Jawa dan diendapkan kembali di garis pantai, yang mengakibatkan pantai timur Indramayu mengalami akrasi dan membentuk delta. Tahun 1947 aliran sungai Cimanuk mengalami perubahan, salah satu bagian aliran sungai mengalir kea rah utara-timur, jalan terdekat menuju garis pantai membentuk delta baru dengan tipe telapak kaki burung (birdfoot-type delta). Kandungan lumpur sungai Cimanuk dapat mencapai rata – rata 53,6 juta ton/tahun.
Sebagian besar morfologi di daerah pesisir kecamatan Indramayu dan Kecamatan Pasekan berupa dataran rendah dan merupakan daerah deltaic yang terbentuk oleh adanya endapan dari sungai Cimanuk. Daerah pesisir kecamatan Pasekan merupakan endapan baru yang berumur sekitar 100 tahun. Pada tahun 1917, Teluk Pabean belum terbentuk dan semenanjung pancer payang belum mencuat kea rah laut. Teluk dan semenanjung ini terbentuk setelah tahun 1946 (terlihat pada gambar di bawah ini).
Berdasarkan studi Hehanussa dkk. (1975) angkutan sedimen dari hulu sungai Cimanuk hingga diendapkan di muara sungai dapat mencapai 53,6 juta ton per tahunnya. Angkutan sedimen ini kemudian diendapkan di muara dan menimbulkan pertumbuhan garis pantai membentuk delta Cimanuk. Kecepatan pertumbuhan delta Cimanuk ke arah laut bervariasi antara 7 km hingga 15 km per tahunnya.
3.1.2 Kondisi Oseonografi (Arus, Gelombang, dan Pasang-Surut Laut)
Parameter arus permukaan mengikuti pola musim, yaitu pada musim barat (bulan Desember sampai Februari) arus permukaan bergerak ke arah timur, dan pada musim timur (bulan Juni sampai Agustus) arus bergerak ke arah barat. Pada musim barat, arus permukaan ini mencapai maksimum 65,6 cm/detik dan minimum 0,6 cm/detik, sedangkan pada musim timur, arus permukaan ini mencapai maksimum 59,2 cm/detik dan minimum 0,6 cm/detik. Tinggi gelombang di laut Jawa umumnya rata – rata kurang dari 2 meter (PKSPL-IPB, 2000). Adapun kondisi arus pasang-surut berdasarkan fase elevasi muka air.

3.1.3 Kondisi Meteorologis (Temperatur, Curah Hujan, Angin dan Badai)
Informasi tentang temperatur, curah hujan, angin dan badai diperoleh dari pengolahan data di stasiun meteorology Jatiwangi dan laporan – laporan studi lingkunagn yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah Indramayu. Di bawah ini disajikan table presentase distribusi angin yang bertiup dan terukur di stasiun Jatiwangi.

Tabel 3.1 Prosentase Distribusi Kecepatan dan Arah Angin yang Tercatat di Stasiun Jatiwangi (1983 – 2008)
Directions/Wind Classes (m/s) 0,5-2,1 2,1-3,6 3,6-5,7 5,7-8,8 8,8-11,1 >11,1 Total (%)
1 337,5-22,5 2,0000 4,0000 13,6667 6,0000 0,0000 0,0000 25,6667
2 22,5-67,5 0,3333 1,3333 2,3333 1,3333 0,0000 0,0000 5,3333
3 67,5-112,5 1,3333 2,3333 10,6667 9,0000 0,3333 0,6667 24,333
4 112,5-157,5 0,0000 0,0000 0,0000 0,3333 0,0000 0,0000 0,3333
5 157,5-202,5 0,3333 1,3333 3,0000 4,3333 1,6667 0,3333 11,0000
6 202,5-247,5 0,0000 0,0000 0,6667 1,6667 0,0000 0,0000 2,3333
7 247,5-292,5 0,3333 1,6667 3,3333 5,3333 1,0000 0,6667 12,3333
8 292,5-337,5 0,6667 1,3333 8,6667 7,3333 0,3333 0,3333 18,6667
Sub total 5,0000 12,0000 42,3333 35,3333 3,3333 2,0000 21,1864
Calms 0,0000
Missing / incomplete 0,0000
Total 100,000

Berdasarkan data stasiun pengamatan Jatiwangi selama kurun waktu 1983 – 2008, kecepatan angin yang melebihi 11m/detik hanya terjadi dengan frekuensi 2% atau terjadi sebanyak kurang dari 200 kejadian. Catatan kantor stasiun ini menjelaskan bahwa angin kencang (mendekati kecepatan angin saat badai terjadi yaitu 30 meter per detik) pernah terjadi pada bulan januari 2004.
Temperatur udara di daerah Indramayu berkisar antara 250C – 27,50C. temperatur terendah yang pernah tercatat di stasiun Jatiwangi berkisar pada 180C, sedangkan temperatur tertinggiyang pernah tercatat selama kurun waktu 25 tahun (1983 – 2008) terakhir berkisar 330C. dari analisis data temperatur dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, seperti terekam dalam gambar dibawah ini, terlihat bahwa temperatur udara di daerah Indramayu tidak terpengaruhi langsung oleh adanya fenomena El Nino maupun La Nina. Data curah hujan menunjukan adanya pengaruh kedua fenomena tersebut diatas.

3.2 BIO EKOSISTEM
3.2.1 Ekosistem Mangrove
Ekosistem mangrove di Kabupaten Indramayu dapat dikelompokkan menjadi ekosistem mangrove alami dan ekosisitem mangrove buatan. Ekosistem ini dibedakan berdasarkan cara ekosistem tersebut terbentuk. Vegetasi di hutan mangrove alami tumbuh secara alami dari sejak dahulu, membentuk belt mangrove yang tebal di pesisir pantai utara Indramayu. Sebaliknya, vegetasi di lokasi mangrove buatan sengaja ditanam oleh masyarakat atau pemerintah, dengan jarak tanam yang relative teratur. Karena penanaman mangrove bersifat local, area mangrove buatan hanya ditemukan dalam patch – patch kecil di beberapa lokasi di pesisir Indramayu. Meskipun demikian, kondisi ekosistem yang terbentuk di kedua kelompok mangrove tersebut bias jadi serupa, tergantung pada umur mangrove dan keanekaragaman hidupan liar yang terbentuk di dalamnya.

3.2.1.1 Ekosistem Mangrove Alami
Kondisi Eksisting
Ekosistem mangrove alami dahulu mendominasi wilayah utara Indramayu. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa luasan hutan mangrove di sepanjang pantai Indramayu hingga Pamanukan, Subang mencapai 14.000 Ha, dengan ukuran pohon mencapai diameter lebih dari 100 cm. Di wilayah kecamatan Pasekan dan Sindang, luas hutan mangrove diperkirakan mencapai 2500 Ha pada tahun 1960-an.
Pengurangan luas area mangrove berkurang secara drastic dalam beberapa puluh tahun terakhir. Pengurangan ini terjadi terutama akibat dari pembukaan lahan untuk area pertambakan, atau juga pengambilan kayu mangrove secara berlebihan. Di Kecamatan Pasekan, hutan mangrove dalam kawasan hutan lindung telah berkurang hingga mencapai sekitar 500 Ha pada tahun 1994. Dengan demikian, laju pengurangan hutan mangrove rata – rata mencapai 60 Ha per tahun. Hutan mangrove alami yang masih tersisa di Kecamatan Pasekan ditunjukan dalam peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) data citra 1994.
Hutan mangrove alami di Indramayu masih terus berkurang hingga saat ini. Berdasarkan foto udara dari Google Earth pada tahun 2008, ekosistem mangrove tersisa hanya dalam patch – patch kecil yang tersebar di sisi utara Indramayu (Kecamatan Pasekan). Beberapa pohon mangrove dari jenis Rhizophora sp. di tepian tambak masih ditemukan dengan ketinggian pohon mencapai 7 meter dan diameter batang di atas 50 cm. Meskipun demikian, jumlah individu yang sedikit dan tersebar tersebut jelas menunjukan bahwa hutan alami mangrove di pesisir Indramayu sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Pengelolaan
Ekosisitem mangrove alami berada dalam kawasan hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani. Berdasarkan Undang – undang No. 41 tahun 1999, hutan lindung didefisinikan sebagai “kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.” Dalam hal ini, hutan mangrove di Kabupaten Indramayu memiliki fungsi utama sebagai pencegah intrusi air laut dan penahan gelombang.
Dalam pengelolaannya, Perum Perhutani menghadapi masalah yang terkait dengan pembukaan lahan hutan mangrove dan pengambilan kayu mangrove oleh masyarakat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 2002 yang diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan pasal 23, disebutkan bahwa pemanfaatan hutan lindung hanya dapat dilakukan melalui tiga hal, yaitu :
a. Pemanfaatan kawasan
b. Pemanfaatan jasa lingkungan
c. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu
Dari tiga kelompok pemanfaatan tersebut, seluruhnya mensyaratkan bahwa pemanfaatan tidak boleh mengurangi, mengubah, atau menghilangkan fungsi utama dari hutan lindung tersebut.
Kondisi ini menjadi dilemma bagi Perum Perhutani. Di satu sisi, Perum Perhutani berperan menjaga agar kawasan hutan mangrove tetap berfungsi sebagai kawasan hutan lindung sebagaimana ditetapkan di dalam aturan, yang artinya mencegah segala aktivitas yang berpotensi menghilangkan fungsi dari kawasan tersebut. Di sisi lain, masyarakat Indramayu adalah pelaku utama dalam perusakan lahan hutan lindung. Sebagai ilustrasi, petani tambak di Kecamatan Pasekan diperkirakan berjumlah 4.000 orang dari sekitar 5.000 Ha luas lahan tambak, dengan mayoritas local berada di kawasan hutan lindung. Pemindahan petani tambak sebanyak itu dari kawasan hutan lindung akan menyebabkan pengurangan lapangan pekerjaan yang cukup besar, dan menimbulkan kekhawatiran akan guncangan sosial di masyarakat Indramayu.
Saat ini, Perum Perhutani menyewakan lahan di dalam kawasan hutan lindung untuk lahan tambak. Hal ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan perambahan hutan mangrove secara illegal yang lebih besar lagi. Dengan harga sewa Rp. 150.000/Ha/tahun, Perum Perhutani menetapkan harga sewa yang lebih murah dibandingkan dengan tanah desa (lahan dibawah pengelolaan desa) yang mencapai Rp. 500.000/Ha/tahun. Sebagai kompensasi atas keringanan tersebut, masyarakat diwajibkan menanam mangrove di dalam lahan tambak yang disewa, minimal sebanyak 80% dari total luas tambak. Pada kenyataannya, dari pengamatan lapangan, petani penyewa tidak menetapkan aturan yang ditetapkan oleh Perum Perhutani. Hambatan tersebut berhubungan dengan beberapa persepsi masyarakat atas mangrove.

3.2.1.2 Ekosistem Mangrove Buatan
Kondisi Eksisting
Penanaman mangrove dilakukan sebagai inisiatif masyarakat atas erosi pesisir pantai Indaramayu yang semakin meningkat. Bpk. Cukup R, dari desa Pabean Ilir merupakan peraih penghargaan Kalpataru atas usahanya melakukan penanaman mangrove di pesisir pantai Indramayu di Blok desa Tegur. Bpk. Cukup dan keluarganya mulai melakukan penanaman hutan mangrove pada tahun 1996. Hal yang mendasari inisiatifnya adalah tingginya laju pengurangan hutan mangrove alami di kawasan hutan lindung, sebelah utara dan barat dari tempat tinggalnya. Di sisi lain, kenaikan muka air laut dan erosi mulai dirasakan mengkikis sisi timur dari Blok desa Tegur, menyebabkan tergenangnya lahan oleh air pasang hingga setinggi 1,5 meter. Gambar di bawah ini menunjukan beberapa patch mangrove buatan di pantai Indramayu, termasuk hasil penanaman Bpk. Cukup dan kelompok lainnya secara swadaya.
Seperti ditunjukan pada Gambar di atas, di beberapa daerah di Indramayu seperti Ujung Cimanuk, Desa Pasekan, Pancer Payang dan Pancer Song, masyarakat juga mulai menanami lahan pesisir dengan mangrove. Berhubungan dengan aktivitas tersebut, di tahun 2004 – 2009, pemerintah pusat dan pemerintah daerah Indramayu menyalurkan dana untuk reboisasi mangrove melalui program Gerakan Rehabilitasi lahan (GERHAN). Penanaman dilakukan dengan kerapatan mangrove rata – rata 10.000 individu/Ha. Berdasarkan pengamatan lapangan, beberapa petak mangrove memiliki kerapatan individu yang tinggi, dengan pohon berdiameter 40 cm dan ketinggian 5 m, seperti ditunjukkan pada gambar di atas.
Pengelolaan
Mangrove dikelola secara swadaya oleh kelompok – kelompok tani mangrove. Beberapa Lembaga Non-Pemerintah (NGO) seperti OISCA ikut mendanai kegiatan penanaman mangrove di Kabupaten Indramayu. Pemerintah, melalui APBN dan APBD 1 mendanai penanaman mangrove melalui Gerakan Rehabilitasi Lahan (GERHAN). Meskipun Dinas Kehutanan memiliki data mengenai luas dan jumlah penanaman secara periodik, monitoring mangrove diserahkan kepada Kelompok Tani Mangrove (KTM) masing – masing. Hal ini menjadi hambatan dalam memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi mangrove di Kabupaten Indramayu secara spasio-temporal. Table 3.2 menunjukan,
bagaimana aktivitas penanaman dilakukan dari tahun 2004 sampai dengan 2007.
Tabel 3.2 Data penanaman mangrove di Kecamatan Indramayu dan Pasekan dari tahun 2004 – 2007
Tahun Kecamatan Indramayu Kecamatan Pasekan Sumber dana
Luas (Ha) Jumlah Luas (Ha) Jumlah
2004 78 429.000 132 726.000 APBN
2005 150 495.000 — — APBN
2006 30 165.000 50 275.000 Swadaya
2007 300 330.000 251 276.100 APBN, APBD 1
(Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Indramayu, 2009)
3.2.1.3 Hidupan Liar di Ekosistem Mangrove
Mangrove tumbuh pada kondisi tanah berpasir atau berlumpur. Karena itu, mangrove tumbuh baik pada “tanah – tanah timbul”. Tanah timbul adalah tanah yang terbentuk sebagai hasil sedimentasi dari sungai pada bagian hilir (muara sungai). Mangrove juga memiliki rentang toleransi yang tinggi terhadap salinitas, dan karenanya dapat tumbuh baik di pesisir pantai dan muara. Kondisi tanah berlumpur di pesisir pantai Indramayu yang terbentuk sebagai sedimentasi dari sungai Cimanuk lama dan sungai Rambatan Baru memungkinkan optimalnya pertumbuhan mangrove di muara – muara sungai tersebut.
Flora
Jenis – jenis mangrove yang ditanam meliputi jenis – jenis bakau (Rhizophora Mucronata, Rhizophora Apiculata, Rhizophora Stylosa) dan jenis api – api (Avicennia Alba dan Avicennia Marina). Menurut hasil wawancara, bibit mangrove tersebut semula diperoleh dari pohon – pohon mangrove di hutan mangrove alami. Dengan tingginya kebutuhan akan bibit, penanaman selanjutnya harus mendatangkan bibit dari luar. Di beberapa lokasi di muara, bakau berdiameter ± 10 cm sudah memiliki banyak anakan di bawahnya, seperti di tunjukan pada gambar di bawah ini. Hal ini sebenarnya menunjukan bahwa kemampuan regenerasi mangrove cukup tinggi.

Gambar 3.1 Mangrove Jenis Avicennia dan Rhizophora
Di dalam kawasan mangrove juga di temukan bebrapa jenis tumbuhan yang berasosiasi dengan mangrove, seperti jeruju (Acanthus Ilicifolius), Aegiceras Floridum dan Derris Trifolia. Jenis tumbuhan ini, meskipun tidak mendominasi kawasan, mengindikasi bahwa area mangrove buatan berpotensi untuk mengalami suksesi menuju kondisi hutan mangrove alami.
Fauna
Masyarakat menyatakan bahwa keanekaragaman fauna di hutan mangrove alami cukup tinggi. Selain beberapa jenis burung laut, masyarakat dahulu masih menemukan crab eating monkey (Macaca Fascicularis) di dalam hutan mangrove. Monyet ini hidup dengan memakan hewan – hewan di mangrove, terutama kepiting bakau (dan menjelaskan nama dari monyet tersebut). Dengan pembukaan lahan hutan mangrove, populasi monyet secara langsung ikut berkurang, hingga tidak ditemukan lagi saat ini.
Hasil pengamatan burung di lapangan dan wawancara menunjukan bahwa di kawasan mangrove ditemukan beranekaragam jenis burung mangrove dan rawa. Table 3.3 menjelaskan daftar burung yang ditemukan di lokasi pengamatan. Beberapa burung pantai yang mengkonsumsi ikan ditemukan di lokasi mangrove. Mangrove menjadi tempat istirahat dan tempat bersarang bagi burung – burung pantai seperti kuntul dan bangau. Burung – burung lain mencari makan berupa cacing di tanah berlumpur dan sawah, di lokasi yang juga berdekatan dengan kawasan mangrove.
Table 3.3 Daftar burung yang ditemukan di pesisir Indramayu
Nama local Nama ilmiah Lokasi
Blekok sawah Ardeola speciosa Sawah, tambak
Kokokan laut Butorides striatus Tambak, pesisir
Cekakak sungai Todirhamphus chloris Mangrove, sungai
Kuntul besar Egretta alba Tambak, sawah, mangrove
Kuntul kerbau Bubulcus ibis Tambak, sawah, mangrove
Cangak laut Ardea sumatrana Tambak, mangrove, pesisir
Trinil Tring sp. Tambak, mangrove
Bangau tongtong* Leptoptilos javanicus Mangrove
Belibis batu* Dendrocygna javanica Tambak, mangrove
Trulek/Ayam-ayaman* Vallenus sp. Sawah, tambak (migran)
*) Hasil wawancara
Di antara burung – burung yang terdata, masyarakat menyebutkan bahwa trulek atau ayam – ayaman hanya ditemukan pada waktu tertentu saja, tepatnya di awal musim penghujan. Burung ini tiba dalam rombongan untuk beberapa saat (kurang dari seminggu), kemudian terbang lagi ke arah selatan. Trulek mencari makan di dalam lumpur dan kubangan air di sawah. Masyarakat biasanya menangkap dan mengkonsumsi burung ini. Dari ciri – ciri yang dideskripsikan oleh masyarakat, ayam – ayaman diperkirakan merupakan salah satu burung migran yang terbang melewati Indonesia pada musim dingin di utara. Trulek atau ayam – ayaman (Vanellus sp.) berasal dari daerah Siberia di Eropa utara, dan berimigrasi pada musim dingin ke tempat yang lebih hangat di Australia (MacKinnon, 1998). Burung ini terbang dalam rombongan besar hingga ribuan ekor, dan hinggap sebentar di Jawa untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Australia. Sesuai dengan perkiraan tersebut, hasil wawancara menunjukan bahwa burung trulek yang pernah ditemukan diketahui memiliki cincin di kakinya (banding dalam penelitian untuk menghitung populasi burung dan jalur migrasinya). Meskipun trulek dilaporkan ditemukan di Indramayu, tetapi lokasi istirahatnya di area persawahan menunjukan bahwa perubahan lahan mangrove kemungkinan tidak berpengaruh terhadap populasi burung tersebut.

Gambar 3.2 Trulek (Vanellus sp.) sebagai ilustrasi

Penyebaran Burung dan Penggunaan Habitat Mikro
Pengamatan penyebaran dan penggunaan habitat mikro oleh burung dilakukan lima hari setiap bulan dilapangan selama lima bulan.
Analisis data keanekaragaman burung dipergunakan rumus – rumus Shannon – Weaver (MacArthur 1961, dalam Van Balen, 1984) :
H’ = – ∑ pi loge pi
Dimana : H’ = keragaman jenis
Pi = kekayaan jenis yaitu jumlah individu spesies ke – i dibagi jumlah total individu

Kepiting bakau (Scylas serrata) juga merupakan fauna yang ditemukan liar di kawasan mangrove (Gambar 3.22). Kepiting bakau hidup di mangrove dan tambak – tambak, bereproduksi di laut lepas, untuk kemudian kembali ke mangrove untuk hidup. Kepiting bakau merupakan komoditas yang umum dikonsumsi oleh masyarakat, bahkan di level ekspor. Ekspor kepiting bakau dari Indramayu dapat mencapai Taiwan dan Vietnam, dengan produktivitas mencapai 1 ton per hari pada musim hujan, atau 2 kuintal per hari pada musim kemarau. Kepiting yang masih kecil tidak langsung dijual, tetapi dipelihara dulu di tambak hingga ukurannya cukup besar. Harga jual kepiting bakau berkisar antara Rp. 50.000 – Rp. 150.000/kg, tergantung ukuran tubuh dan isi telur, padahal kepiting kecil dibeli dari pengambil dengan harga Rp. 25.000/kg, atau kurang dari setengah harga di tingkat Bandar. Meskipun demikian, para nelayan dapat memperoleh pendapatan hingga Rp. 3 – 4 juta / hari hanya dari mengkumpulkan kepiting bakau. Tentunya, pengurangan lahan mangrove secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap pengurangan hasil penangkapan kepiting bakau.

Gambar 3.3 Kepiting Bakau (Scylas serrata)

3.2.1.4 Persepsi dan Peran Mangrove bagi Masyarakat
Persepsi Masyarakat atas Mangrove
Hasil wawancara dan kuisioner dengan masyarakat menunjukan bahwa mayoritas masyarakat mengetahui peran penting mangrove sebagai pelindung terhadap gelombang dan erosi. Meskipun demikian, masyarakat juga melihat bahwa penanaman mangrove saat ini di beberapa lokasi tidak di imbangi dengan tingginya air pasang dan hempasan gelombang. Di daerah dengan erosi tinggi dan kondisi hutan mangrove yang kurang rapat, peran mangrove dalam menahan gelombang menjadi kurang optimal. Gambar 3.23 menunjukan petak mangrove di tengah perairan akibat dari tingginya pasang dan atau kenaikan muka air laut. Petak – petak ini memperlihatkan bagaimana mangrove kurang dapat berperan menahan laju erosi pantai di Indramayu.

Gambar 3.4 Petak Mangrove di Tengah Perairan
Sebagian masyarakat, khususnya petani tambak, menyadari fungsi hutan mangrove sebagai penyedia tempat memijah bagi ikan dan udang. Karena itu, di dalam tambak masih disisakan satu atau beberapa pohon mangrove (Gambar 3.24). Meskipun demikian, sebagian masyarakat lain melihat mangrove memiliki potensi negative bagi tambak. Mangrove, menurut masyarakat tersebut, menjadi habitat bagi beberapa hama tambak seperti ular, burung, dan biawak. Selain itu, penanaman mangrove yang rapat di dalam tambak juga dapat mengurangi produktivitas tambak, dalam hubungannya dengan pengurangan luas tambak.

Gambar 3.5 Lahan Tambak dengan Mangrove di dalam dan sekitarnya

Pemanfaatan Mangrove oleh Masyarakat
Di luar dari peran mangrove sebagai penyedia jasa ekosistem, masyarakat juga memanfaatkan mangrove secara langsung. Kayu mangrove merupakan kayu yang berpotensi menjadi arang berkualitas baik. Di dalam PROSEA (Ong, 1998), beberapa jenis mangrove dari suku Rhizophora diketahui menghasilkan kayu produksi minor. Kandungan minyak di dalam mangrove diperkirakan menjadi penyebab baiknya kayu mangrove sebagai arang. Selain itu, kayu juga berguna sebagai bahan bangunan, meskipun dimanfaatkan secara subsisten dan lokal.
Kegunaan lain dari hutan mangrove adalah kulit kayunya yang digunakan dalam tali – menali. Dahulu, perkakas rumah tangga yang memiliki tali menggunakan serat dari kulit kayu mangrove. Di luar itu, daun juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, meskipun tidak secara luas. Adapun buah dari mangrove api – api (Avicennia spp.) dapat dimakan secara langsung.
3.2.1.5 Hubungan Ekosistem Mangrove dan Perubahan Iklim
Perubahan iklim dan erosi berpengaruh pada berkurangnya lahan daratan di pesisir pantai. Pengurangan luas lahan daratan di pesisir pantai Indramayu, khususnya di muara Cimanuk, dapat mencapai 1 km dalam waktu 5 tahun. Seperti yang juga dipersepsikan oleh masyarakat, mangrove dengan ukuran kecil diperkirakan tidak dapat menahan laju kenaikan muka ari laut, pasang, dan intrusi dari laut.
Meskipun demikian, peran mangrove yang berkurang lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Pembukaan lahan, eksploitasi kayu, pencemaran, dan pengurangan sedimentasi sebagai media tumbuh mangrove merupakan beberapa hal yang berpengaruh dalam penurunan peran mangrove. Jika kondisi ini tidak di tanggulangi, mangrove tidak hanya kehilangan perannya sebagai penyangga bagi dampak perubahan iklim di pesisir Indramayu, tetapi juga ikut terkikis oleh driver dari perubahan iklim tersebut.
3.3 Pengelolaan Hutan Mangrove di Kabupaten Indramayu
3.3.1 Definisi dan Ruang Lingkup Mangrove
Pada umumnya mangrove adalah pohon-pohon dan semak-semak yang tumbuh dibawah tingkat air pasang tinggi di musim semi. Dengan demikian, sistem perakarannya secara teratur digenangi air laut (asin), meskipun satu atau dua kali dalam setahun dibanjiri oleh aliran permukaan air tawar, dan hanya digenangi sekali atau dua kali setahun.
Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob. Seperti halnya direkomendasikan oleh FAO (1982), kata mangrove sebaiknya digunakan baik untuk individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Adapun menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup di sepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.
Dengan demikian secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove.

3.3.2 Sebaran Hutan Mangrove di Indramayu
Hutan mangrove di indramayu terbagi menjadi 2 (dua) yaitu hutan mangrove di dalam kawasan hutan (hutan lindung) yang tersebar di 10 Desa yaitu Desa Parean Girang Kecamatan Kandanghaur, Desa Cemara Kecamatan Losarang, Desa Cangkring dan Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi, Desa babadan Kecamatan Sindang dan Desa Karanganyar, Pasekan, Pagirikan, Totoran dan Pabeab Ilir Kecamatan Pasekan, sedangkan hutan Mangrove di luar kawasan hutan tersebar di 22 Desa diantaranya yaitu Ujung Gebang Kecamatan Sukra, Desa ilir, Bulak dan Parean Girang Kecamatan Kandanghaur, Desa Cemara Kecamatan Losarang, Desa Cangkring dan Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi, Desa Brondong, Karanganyar, Totoran dan Pabeab Ilir Kecamatan Pasekan, Desa Pabean Udik, Karangsong dan Singaraja Kecamatan Indramayu, Desa Benda Kecamatan Karangampel, Desa Juntinyuat Kecamatan Juntinyuat, Desa Tanjakan, Kalianyar, Luwung Gesik, Krangkeng dan Singakerta Kecamatan Krangkeng.

Gambar 3.6 Peta Kabupaten Indramayu
3.3.3 Pengelolaan Hutan Mangrove di Indramayu Tahun 2010-2014
a. Perluasan Areal Hutan Mangrove
Pentingnya areal mangrove sebagai habitat bagi jenis-jenis ikan ekonomi penting telah diakui secara luas, namun perlu diingat bahwa habitat utama bagi organisme-organisme tersebut adalah teluk yang dangkal, saluran pemasukan dan saluran-saluran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem mangrove. Hutan mangrove pasang surut memiliki beberapa habitat yang digunakan secara langsung oleh jenis-jenis ikan penting. Hutan mangrove akan memberikan input (masukan nutrisi) kepada sitem teluk dan kanal yang dangkal di sekitarnya yang merupakan habitat utama bagi berbagi jenis biota air untuk kepentingan komersial, kebutuhan sehari-hari dan rekreasi.
Pengembangan hutan mangrove di indramayu merupakan salah satu upaya penguatan fungsi ekologi dan ekosistem. Pengembangan areal baru hutan mangrove diarahkan pada pantai yang berlumpur dan muara-muara sungai, adapun lokasi yang bisa dikembangkan hutan mangrove yaitu sepanjang pantai Ilir sampai dengan pantai Lamaran Tarung dan Pantai Tiris sampai dengan Payang juga bisa dikembangkan di pantai Karangsong berdasarkan hasil survai Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indramayu sepanjang pantai tersebut diatas memenuhi persyaratan untuk dikembangkan hutan mangrove adapun jenis yang bisa dikembangkan yaitu Avicennia spp. (A. alba Blume A. germinans L, A. marina Vierh), Bruguiera sp (B. cylindrica (L) Blume, B. gymnorrhiza (L) Lam.) dan Rhizophora sp. (R. apiculata Blume, R. harrisonii Leechman, R. mucronata Lam., R. racemosa G. Meyer, R. mangle L., R. stylosa Griff dan R. xselala (Salvoza) Tomlinson)

b. Pengembangan Pola Silvofihery
Pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove secara ideal seharusnya mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kelestarian ekosistem hutan tersebut. Dalam upaya tersebut, Perum Perhutani telah memperkenalkan suatu pola pemanfaatan yang di sebut silvofishery atau tambak tumpangsari. Tambak tumpangsari merupakan suatu pola agroforestry yang digunakan dalam pelaksanaan program perhutanan sosial di kawasan hutan mangrove yang berpenduduk padat. Pola ini merupakan kombinasi antara tambak/empang dengan tanaman bakau. Pola ini dianggap paling cocok untuk pemanfaatan hutan mangrove saat ini, karena diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat di tingkatkan, sedangkan hutan mangrove masih tetap dijaga kelestariannya. Pola ini mulai dikembangkan sejak tahun 1986 dimana pada saat itu baru merupakan uji coba percontohan, sejak tahun 1988 pola ini dikembangkan secara massal, yang dikuti pula dengan terbentuknya Kelompok Tani Hutan (KTH) Payau sebagi mitra Perum Perhutani dalam mengelola hutan payau.
Pola kemitraan dituangkan dalam bentuk kerjasama penanaman, pemeliharaan, perlindungan/ pengamanan serta pemanfaatan lahan hutan payau Perum Perhutani dengan Pesanggem/mitra KTH payau dengan batas waktu tertentu (perjanjian kerjasama di buat dalam jangka waktu 1 tahun) , dengan pemakaian lahan yang digarap 80% tanaman dan 20% untuk budidaya ikan.
c. Pengembangan Hutan Mangrove dan Wisata Alam (ECotourism)
Pariwisata seyogyanya dipertimbangkan sebagai suatu potensi pemanfaatan mangrove yang tidak merusak, baik pemanfaatan mangrove secara langsung maupun tidak langsung, sebagai suatu sumber pendapatan tambahan yang potensial bagi penduduk daerah mangrove.
Ada beberapa pilihan untuk mengenbangkan wisata alam di kawasan mangrove, sebagai contoh di dalam kawasan hutan lindung (hutan mangrove) yang di kelola oleh KPH Indramayu BKPH Indramayu dapat dikembangkan wisata alam mangrove mungkin berguna bila dikembangkan untuk menyediakan atraksi sederhana, misalnya pembuatan jembatan gantung diantara pohon mangrove untuk mengamatinya. Hal semacam ini juga dapat digunakan untuk rekreasi wisatawan lokal dan untuk dijadikan tempat pendidikan konservasi lokal.
Dalam kondisi yang khusus, pelaksanaan wisata alam yang bersifat komersial dapat secara langsung tergantung pada mangrove pendidikan lingkungan dan pelatihan. Areal lain yang bisa dikembangkan untuk dijadikan wisata alam mangrove yaitu muara Karangsong. Selain itu juga objek wisata hutan mangrove juga bisa dijadikan sebagai areal penyuluhan, Mangrove trail salah satu daya tarik pengunjung di Mangrove Information Center (MIC-JICA) di Bali bisa dikembangkan di Kabupaten Indramayu, Ide ini memberi cakupan yang lebih luas terhadap potensi wisata dalam pengelolaan mangrove, sumberdaya-sumberdaya wisata lainnya dapat juga digunakan untuk menarik wisatawan, adapun secara ekonomi kegiatan wisata alam ini dapat memberikan peluang menciptakan pendapatan untuk masyarakat lokal dapat berbentuk pelayanan angkutan, pemanduan, penjajaan makanan dan jasa akomodasi.
3.3.4 Pokja Mangrove
1. Pembentukan POKJA MANGROVE dan Sudah di SK kan Bupati dengan Keputusan Bupati Indramayu Nomor : 665/Kep.142-Dishutbun/2009 Tentang Kelompok Kerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Wilayah Kabupaten Indramayu Tahun 2009 dengan Tugas Kerja Adalah Sbb:
a. Penyusunan rencana kerja, penyediaan bahan dan alat, Inventarisasi dan Identifikasi Lokasi (data fisik lokasi, data biologi, sosek)
b. Membuat Rancangan Teknis (penetapan jenis tanaman, persemaian, penanaman, pemeliharaan )
c. Pengukuran lapangan dan pemetaan
2. Pendirian Mangrove Center dengan tujuan untuk :
a. Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan
b. Pengembangan Program Interpretasi & Pendidikan Konservasi
c. Pengembangan SDM (interpreter) dengan Pelibatan Masyarakat Setempat
d. Pengaturan Manfaat Ekonomi yang seimbang

3. Penyusunan Peratuaran Desa Tentang Penanganan Kawasan Hutan Mangrove
VISI :
Terwujudnya penataan ruang hutan mangrove yang mantap setatus hukumnya dan pengelolanya yang di patuhi semua pihak dan juga kelestariannya.
MISI :
1. Melanjutkan kebijakan 45 % kawasan lindung Jawa Barat dengan mendorong identitas dan penetapan kawasan lindung hutan mangrove di Kabupaten Indramayu.
a. Program penentuan tata batas kawasan lindung Hutan Pantai di dalam dan luar Kawasan :
– Kegiatan pemutahiran tapal batas Kawasan Lindung
b. Program identifikasi dan penataan tanah timbul
– Kegiatan pemutahiran dan pemetaan kawasan tanah timbul
2. Mendorong swasta / Perorangan / BUMN / BUMD membangun demplot Hutan Mangrove yang berguna bagi ekonomi / konservasi masyarakat .
a. Program demontrasiplot Hutan Mangrove
– Kegiatan pembuatan petak percontohan Hutan mangrove seluas 1 sampai 5 Ha
b. Program demontrasiplot Perikanan
– Kegiatan silfoviseri Mangrove seluas 1 sampai 5 Ha.
– Kegiatan budidaya kerang di bawah tegakan tanaman Mangrove.
3. Menjadi pelopor pengendalian dan pelestarian Hutan Mangrove sebagai upaya peningkatan ekonomi konservasi dan keseimbangan flora dan fauna.
• Program pembersihan lingkungan Mangrove dari pencemaran limbah yang menyebabkan kematian Tanaman.
• Kegiatan pengambilan limbah pada kawasan konservasi
• Kegiatan safari mangrove
• Kegiatan pelepasan satwa fauna
4. Mewujudkan koordinasi kesediaan bibit mangrove dari perusahaan emisi korbon sebagai implementasi kontribusi hulu ilir
• Kegiatan temu karya dampak emisi korbon dari lingkungan
• Kegiatan bantuan modal usaha pada kelompok Mangrove pada usaha produktif
Mendorong ketertiban penggunaan tanah timbul sebagai kawasan lindung mangrove di Kabupaten Indramayu.
• Kegiatan pembangunan wana wisata Mangrove.
• Kegiatan pembuatan arboretum.
• Kegiatan home industri buah Mangrove
• Kegiatan pembuatan persemaian Hutan Mangrove

4.3 Pembibitan dan Penanaman Benih Mangrove
4.3.1 Pembuatan Bedeng
Tahap pertama dalam penanaman mangrove yaitu pembuatan bedeng. Lokasi pembuatan bedeng, dipilih yang berdekatan dengan lokasi penanaman mangrove. Hal ini, bertujuan untuk mempermudah distribusi bibit mangrove pada saat penanaman. Selain itu, harus diperhatikan juga tentang kondisi lingkungan, seperti tipe pasang surut di lokasi bedeng. Informasi mengenai kondisi pasang surut yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga sirkulasi air dan mengenali pola penggenangan di bedeng. Mengingat pembangunan bedeng sangat tergantung dengan pasang surut, maka suatu lokasi yang tidak memiliki pola sirkulasi pasang surut yang baik, sudah seharusnya tidak dipilih sebagai lokasi peletakan bedeng.
Bedeng bisa dibuat dengan berbagai macam tipe, disesuaikan dengan kondisi, situasi, budaya setempat dan tentunya anggaran yang dimiliki. Pembangunan bedeng persemaian untuk menyemaikan benih – benih mangrove. Terdapat 3 tipe tempat persemaian, yaitu dua buah bedeng dan satu buah tempat persemaian mangrove.
1. Bedeng Tingkat
Bedeng tingkat artinya, dasar bedeng ditinggikan beberapa sentimeter dari atas tanah dengan tujuan untuk menghindari dari pemangsaan bibit mangrove oleh pemangsa misalkan kepiting. Bedeng tingkat ini dibuat dari potongan bambu dan bisa dibuat beberapa buah dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia. Sebagai naungan, bisa digunakan daun kelapa dan atau bahan penutup lainnya. Intinya, bibit – bibit mangrove tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan mengakibatkan pada kematian bibit mangrove yang sedang disemaikan.
Kelebihan dari bedeng ini adalah konstruksinya yang kuat, bagus dan mampu bertahan kurang lebih selama 4 tahun. Dengan pemeliharaan bibit yang baik dan benar. Sedangkan kelemahannya adalah biaya yang dibutuhkan untuk membangun bedeng tingkat berukuran 2m x 3m dengan tinggi 1,5m membutuhkan biaya sekitar RP 600.000,00. Padahal, setidaknya dibutuhkan enam buah bedeng untuk menyemaikan enam jenis mangrove.
2. Bedeng Tanpa Tingkat
Bedeng tanpa tingkat artinya, dasar bedeng tidak ditinggikan melainkan langsung menggunakan tanah sebagai dasarnya. Kelebihan bedeng ini adalah bisa cepat dibangun hanya dengan membutuhkan biaya yang murah. Kelemahan dari bedeng jenis ini adalah bagi daerah persemaian yang memiliki kelimpahan kepiting yang besar, maka ketahanan hidup bibit mangrove bisa mencapai minimal, apabila program pemeliharaan bibit mangrove tidak berjalan secara optimal.
3. Tanpa Bedeng
Persemaian dilakukan tanpa bedeng, dengan cara benih langsung disemaikan di bawah pohon indukannya.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam pembuatan bedeng dan tempat persemaian mangrove adalah bibit – bibit mangrove harus tertutup dari sinar matahari secara langsung. Menurut penelitian, persentase penutupan yang baik adalah 50 % sampai dengan 75%.
4.3.2 Pengambilan Benih
Benih mangrove diambil dari pohonnya secara langsung. Buah – buah mangrove dari jenis Rhizopora dan Avicennia, terletak bervariasi di ketinggian yang berbeda. Buah Rhizopora yang diambil adalah buah yang sudah matang, yang ditandai dengan adanya cincin kuning dibagian propagulnya. Untuk propagul yang belum muncul cincin kuningnya, tidak diambil karena belum bisa disemaikan.

3.7 Gambar Buah Mangrove jenis Rhizopora dan Avicennia.

4.3.2.1 Bentuk Buah (Propagul) Mangrove
Tipe buah mangrove ada dua buah, yaitu Vivipari dan Kriptovivipar. Vivipar adalah biji yang telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya dan kecambah telah keluar dari buah. Sedangkan kriptovivipar adalah biji yang telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya, tetapi masih tetutup oleh kulit biji.
Dibawah ini adalah gambar propagul (buah vivipar) jenis mangrove Rhizopora opiculata. Bisa dilihat bagian – bagiannya mulai dari tangkai, kelopak buah, plumula (bakal buah), buah, keping buah, hipokotil dan radikula.
Keterangan mengenai beberapa bagian dalam propagul ini telah jelas. Plumula adalah bakal daun yang tertutupi oleh keping buah. Selanjutnya, keping buah bisa dijadikan indikator bagi pemasakan buah. Apabila warna keping buah berubah menjadi kuning atau coklat, maka bisa dipastikan bahwa buah Rhizopora opiculata telah masak. Tidak hanya jenis Rhizopora spp saja, jenis lainnya juga akan menunjukkan “gejala” kematangan buah yang sama.
Hipokotil adalah semai antara batang dan akar. Bagi beberapa jenis tumbuhan mangrove, hipokotil merupakan bagian yang sangat penting untuk menyimpan cadangan makanan dan bahan cadangan lainnya. Hipokotil merupakan “kecambah” yang keluar dari buahnya. Sementara itu radikula adalah bakal akar yang akan menjelma menjadi akar – akar mangrove yang kuat yang akan bisa melindungi pesisir pantai kita dari abrasi dan gelombang tsunami.
4.3.2.2 Perlakuan Benih
Setelah diambil dari sumbernya, buah mangrove kemudian diletakkan di tempat yang terlindung. Buah mangrove bisa diletakkan sementara di bedeng atau di pohon indukannya. Bibit mangrove kemudian diberikan perlakuan sedemikian rupa sehingga pada saat disemaikan bisa mencapai ketahanhidup yang maksimal.
Secara sederhana, buah mangrove yang ditemukan di lapangan biasanya terdiri dari dua tipe, yaitu tipe propagul dan tipe buah bulat. Tipe propagul berbentuk bulat – lonjong – memanjang dan tipe buah bulat berbentuk bulat dengan variasi bulat lancip seperti pada jenis Avicennia spp dan bulat penuh yang terdepat pada Sonnerita spp. Kedua tipe benih mangrove ini mendapatkan perlakuan yang sama setelah dipetik dari lapangan, yaitu direndam kurang lebih dua hari atau menyesuaikan dengan jarak waktu antara pembibitan dan penanaman, sebelum kemudian disemaikan di bedeng. Perendaman ini berfungsi untuk menghilangkan bau manis pada benih, yang disukai oleh kepiting. Dengan demikian, pada saat disemaikan, maka pemangsaan benih oleh kepiting bisa dikurangi.
4.3.3 Pembibitan
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan pembibitan mangrove adalah polybag, benih mangrove berbagai jenis, lumpur, cetok dan bedeng.
Sebagai informasi, polybag terdiri dari dua tipe, yaitu polybag kecil untuk benih berukuran kecil, seperti Avicennia spp, Sonneratia spp, dan Ceriops spp. Dan polybag besar untuk benih Rhizopora spp dan Bruguiera spp. Polybag memiliki lubang di bagian samping dan bawahnya, yang berguna untuk sirkulasi air dan udara.
Selanjutnya, lumpur yang digunakan pada tahap pembibitan ini, sebaiknya diambil dari sekitar lokasi penanaman. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan ketahananhidup benih sewaktu pembibitan. Bedeng persemaian yang dipergunakan bisa disesuaikan dengan tiga buah jenis bedeng yang ada diatas.
Tahap pembibitan dilakukan setelah tahap perlakuan bibit selesai. Pembibitan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Ambil polybag, lalu isi dengan lumpur yang ada disekitar bedeng.
2. Isi poly bag dengan sedimen, tetapi jangan terlalu penuh melainkan ¾ dari isi polybag.
3. Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas polybag ke bagian luar dengan tujuan pada saat surut dan cuaca kering, Kristal –kristal garam air laut tidak terjebak di dalam polybag yang bisa menghambat pertumbuhan benih mangrove.
4. Selanjutnya, tanam benih mangrove yang telah dipilih dan berkondisi baik ke dalam sedimen dengan kedalaman yang cukup.
5. Jangan lupa untuk menanam benih Ceriops, Sonneratia dan Avicennia ke dalam polybag kecil dan benih Rhizopora dan Bruguiera ke dalam polybag yang berukuran besar.
6. Setelah itu, masukkan satu per satu polybag yang sudah terisi dengan benih – benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaiknya diusahakan agar satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar mempermudah distribusi pada saat pengambilannya di tahap penanaman mangrove.

4.3.4 Pembuatan Pemecah Gelombang (Apo)
Pembuatan pemecah gelombang ini disarankan apabila diperlukan sebaiknya setelah melakukan tahap pembibitan. Hal ini dilakukan untuk melindungi bibit – bibit mangrove yang telah ditanam di lokasi penanaman. Perlu diketahui bahwa mangrove baru bisa berfungsi sebagai penahan abrasi, setelah berumur kurang lebih lima tahun disaat akarnya telah kuat sehingga mampu mengurangi kekuatan gempuran gelombang.
Pemecah gelombang memiliki empat macam model pemecah gelombang (Apo). Keempat jenis apo – apo tersebut bisa dibedakan dari jenis bahan pembuatnya. Apo – apo pertama terbuat dari beton dan semen berbentuk bundar. Apo – apo kedua terbuat dari beton dan semen berbentuk segiempat. Selnjutnya, pemecah gelombang ketiga terbuat dari potongan bambu yang dianyam, dan yang terakhir adalah apo – apo yang terbuat dari ban bekas yang dikuatkan dengan potongan bambu.
Masing – masing model dari pemecah gelombang ini memiliki kelebihan dan kekurangannya. Untuk pemecah gelombang dari semen dan beton (baik yang bundar maupun yang berbentuk segiempat), kelebihannya terletak dari konstruksinya yang tahan lama sehingga mampu lebih banyak mereduksi kekuatan gelombang laut. Kelemahan jenis ini adalah biaya pembangunannya yang sangat mahal sehingga tidak sesuai dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Biaya pemecah gelombang yang hanya dimonopoli oleh pihak penyandang dana telah menempatkan masyarakat sebagai obyek dan bukan subyek dari penanaman mangrove.
Selanjutnya, pemecah gelombang yang terbuat dari potongan bambu yang dianyam memiliki kelebihan dianggarannya yang lebih kecil dan bahan bakunya juga bisa diperoleh dari warga sekitar sehingga mampu memberdayakan warga sekitar untuk turut serta dalam penanaman mangrove sebagai subyek dan bukan obyek.
Sementara model pemecah gelombang yang terakhir, yaitu yang terbuat dari ban bekas, selain biayanya yang murah juga memiliki kekuatan penahan gelombang yang lebih baik dibandingkan denga pemecah gelombang yang lainnya. Namun masih dipertanyakan mengenai keramahan lingkungannya.

4.3.5 Penanaman dan Penyulaman Mangrove
Sebelum melakukan tahap penanaman mangrove, maka lokasi penanaman mangrove harus sudah disepakati bersama antara tenaga pendamping, para mitra kerja dan masyarakat. Tenaga pendamping bisa menyampaikan sebuah rekomendasi tentang letak lokasi penanaman mangrove yang tepat yang berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada penelitian awal.
Beberapa faktor lingkungan penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan tahap penanaman mangrove antara lain adalah tipe substrat, salinitas, temperature, ketinggian tanah, pH, musim dan saluran air. Substrat untuk penanaman mangrove harus sesuai dengan jenis mangrove yang akan ditanam. Secara sederhana, pada sedimen yang berlumpur, maka jenis Rhizopora spp adalah jenis mangrove yang tepat untuk ditanam. Avicennia spp dan Sonneratia spp, menyukai tanah berpasir yang berada di pinggiran pantai. Jenis mangrove lainnya seperti Ceriops spp dan Bruguiera spp bisa hidup bervariasi di substrat lumpur berpasir. Salinitas atau kadar garam juga perlu diperhatikan, karena mangrove hidup pada salinitas yang bervariasi. Kadar salinitas yang bervariasi ini ikut pula menentukan pola penyebaran mangrove di habitatnya.
Perlu diketahui bahwa penentuan jenis mangrove untuk ditanam disuatu lokasi harus disesuaikan dengan kondisi substratnya dan budaya masyarakat lokal setempat. Beberapa hal yang kami temui dilapangan menginformasikan bahwa jenis – jenis mangrove tertentu cenderung “tidak” disukai untuk ditanam di daerah tertentu, sebagai contoh di Surodadi, misalnya jenis mangrove Rhizopora spp cenderung tidak bnyak ditanam tetapi ditebangi, karena di wilayah tersebut perakaran Rhizopora spp ditengarai telah menyebabkan jebolnya tanggul pertambakan mereka. Untuk itu, mangrove jenis Avicennia spp yang dianggap memiliki sistem perakaran yang lebih rapat dan mampu menstabilkan tanah tambak.
Secara teori penanaman mangrove dengan mempergunakan bibit mangrove akan memiliki tingkat kelulusanhidupan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan penanaman mangrove dengan menggunakan propagul. Namun demikian, penanaman mangrove dengan propagul tanpa penyemaian sebaiknya juga dilakukan terutama pada saat penyulaman. Faktanya, penanaman mangrove menggunakan propagul juga seringkali dilakukan dengan alasan bibit mangrove lebih mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Sementara itu, penggunaan propagul sebagai “bahan baku” penanaman mangrove, walaupun diklaim memiliki daya adaptasi yang lebih tinggi, tetapi tidak demikian dengan daya tahannya terhadap gelombang.
Selanjutnya, penanaman bibit mangrove harus dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Hal ini dilakukan mengingat pada kondisi alami, mangrove memamng membentuk tegakan murni yang berarti ditemukan secara berkelompok sesuai dengan jenisnya. Penanaman mangrove sebaiknya dilakukan pada saat air laut surut. Namun demikian, apabila keadaan tidak memungkinkan, maka penanaman mangrove bisa tetap dilaksanakan pada saat air tergenang dengan syarat pada saat melakukan penanaman akar bibit benar – benar tertancap dengan baik di sedimen dan terikat kuat di smaping ajirnya. Alat dan bahan yang dipergunakan untuk melakukan tahapan penanaman mangrove adalah bibit mangrove berbagai jenis, cetok, ajir dan tali rafia.

3.9 Gambar Penanaman Mangrove

Teknik penanamannya sendiri adalah sebagai berikut :
1. Ambil satu bibit mangrove di bedeng.
2. Buka polybag yang menutupi sedimen dan akar bibit. Jangan buang polibag secara sembarangan, tetapi letakkan polybag di atas ajir.
3. Tanam langsung bibit mangrove ke tanah dengan cara melubangi tanah dengan cetok, sedemikian rupa hingga lubang penanaman cukup dalam, sehingga akar bisa tertanam dengan baik.
4. Setelah itu, ikat batang bibit mangrove ke ajir dengan menggunakan tali rafia yang telah disediakan. Penggunaan ajir berguna untuk menjaga bibit mangrove agar tidak tumbang ketika terkena ombak. Jarak tanam adalah 1m x 1m.
5. Timbun dengan tanah. Jangan terlalu menekan tanah, sehingga oksigen bisa dengan leluasa ke luar dan masuk ke tanah.
6. Ambil polybag yang terletak di atas ajir, kumpulkan menjadi stu di sebuah keranjang atau plastik. Selanjutnya polybag bisa didaur ulang menjadi berbagai macam barang plastik daur ulang.
Tidak semua bibit mangrove harus ditanam pada saat penanaman, melainkan bisa disisihkan untuk tahapan selanjutnya, yaitu penyulaman. Penyulaman adalah tahapan penting setelah tahapan penanaman, karena bertujuan untuk memelihara bibit – bibit mangrove yang telah ditanam agar mendapatkan kelulushidupannya yang maksimal. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit – bibit mangrove yang telah mati dengan bibit – bibit mangrove yang baru. Sebagai contoh, dari 10 ribu bibit yang ada, bisa disisihkan 2 ribu bibit untuk penyulaman.
4.3.6 Pemeliharaan Kawasan Mangrove
Tahap ini adalah tahap lanjutan setelah tahap penyulaman selesai dilakukan. Tahapan pemeliharaan mangrove memiliki tujuan jangka panjang untuk memastikan agar bibit – bibit mangrove, bisa hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal yang harus dilakukan pada tahapan ini adalah program penjarangan, yaitu berupa penebangan beberapa buah dan batang pohon mangrove muda. Jika ditenggarai bibit mangrove yang berhasil tumbuh memiliki kepadatan yang sangat tinggi. Hal ini penting dilakukan untuk memaksimalkan pertumbuhan pohon mangrove lainnya. Hal seperti ini dilakukan agar pertumbuhan pohon mangrove bisa tumbuh secara optimal.
Selain penjarangan, dilakukan juga pembersihan lokasi terhadap hama dan gangguan lainnya seperti rumput liar, pencemaran minyak dan gangguan lainnya, serta pengelolaan saluran air. Jika didapati terjadinya penutupan saluran air sebagai akibat dari perubahan alam di daerah pesisir.
Selanjutnya tata aturan seperti larangan melakukan penebangan pohon mangrove yang telah berhasil tumbuh dengan baik dilokasi penanaman, juga harus dibuat untuk memberikan informasi dan pendidikan kepada masyarakat luas akan pentingnya penjagaan terhadap kelestarian mangrove di pesisir.

DAFTAR ACUAN
Bengen, D. G. 2001. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB. Bogor.
Kegiatan Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Dan Lautan Desa Karangsong Kecamatan Indramayu,2009. CV. Perintis. Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Indramayu.
Rencana Strategi Pengelolaan Pesisir Kabupaten Indramayu,2004. Dinas Pertambangan Dan Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu.
Soerianegara, I. dan A. Indrawan. 1985. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Suryati, D.A. 1991. Studi Komunitas Burung dan Vegetasi di Kawasan Hutan Kota Kemayoran, Jakarta. Skripsi Sarjana Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta. Tidak diterbitkan.
Suwelo, I.S. 1993. Jenis – Jenis Burung di Jakarta Ditinjau dari Segi Ekologi. Makalah Seminar Sehari “Burung dan Upaya Pelestariannya”, KPB Symbiose FMIPA Biologi UI. Jakarta.

Maret 3, 2011 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: